Menu

Perjalanan Bulan Madu Keliling Dunia dengan Gowes

4 Juni 2014 | Hot News, Tips, Trending Topic
bulan-madu-keliling-dunia-dengan-sepeda

Cat dan Steve Turner

Dua minggu berada di terik matahari, laut, dan pasir, bagi banyak pasangan bulan madu sudah cukup ideal. Tapi bagi pasangan pengantin baru Kat dan Steve Turner tidak. Mereka berdua memilih untuk melewati perjalanan bulan madu sejauh 30.500 km keliling dunia di atas sadel. Wow!

Mereka menghabiskan waktu bulan madu mereka dengan gowes bersama melalui pedalaman Australia, kota-kota besar di China serta pegunungan di Eropa Timur. Mereka hanya membawa apa-apa yang muat untuk dibawa di dalam trailer di belakang sepeda mereka.

Steve, 34, untuk sementara meninggalkan pekerjaannya sebagai guru di Sekolah Dasar South Park di Water Lane, Seven Kings. Sedangkan Kat, 32, untuk sementara waktu meninggalkan pekerjaannya sebagai Ombudsman petualangan di Parliamentary and Health Service di kota yang sama. Selama kurang lebih dua tahun mereka melakukan perjalanan bulan madu keliling dunia dengan gowes. Hingga akhirnya mereka kembali pulang ke rumah.

Kat-dan-Steve-Turner

Potong Rambut

Kini Steve Turner telah kembali ke Sekolah Dasar South Park, tempat ia mengajar. Selama dua tahun perjalanan, dia tidak memotong rambutnya sehingga jenggotnya dan brewoknya menjuntai ke bawah. Wow! (Asal enggak lupa mandi aja ya om.) Menariknya, tindakan besar kedua pasangan pengantin baru itu berawal dari pikiran yang sangat sederhana.

“Kami awalnya berpikir bahwa kami harus pergi untuk sementara waktu dan sedikit terbawa dengan perjalanan itu,” kata Steve.

“Ya, kami hanya berpikir pasti menyenangkan,” timpal Kat.

kat-dan-steve-turner-keliling-dunia-dengan-sepeda

Sepeda Tandem

Persiapan perjalanan keliling dunia dengan sepeda itu dimulai setelah pernikahan mereka pada Agustus 2011 lalu. Selama delapan bulan persiapan, mereka akhirnya memutuskan berangkat pada April 2012. Mereka meninggalkan keluarganya untuk sementara waktu, bertolak dari rumah mereka di London Tenggara mereka mengambil penerbangan langsung ke Selandia Baru membawa sepeda dan semua perlengkapannya, dan memulai perjalanan pulang yang panjang.

Perjalanan yang mereka lalui benar-benar membawa kesan mendalam yang tak akan mereka lupakan. Selama perjalanan mereka melalui rute dan musim yang ekstrim di negara-negara yang mereka kunjungi, di Australasia, Asia, dan Eropa. Mereka melalui berbagai kondisi bencana alam di negara-negara yang mereka kunjungi.

“Kami sedang berada di China saat gempa bumi dahsyat terjadi. Benar-benar menakutkan, orang-orang di sekitar kami meninggal,” kata Steve. “Kami juga telah melalui badai besar, di mana seluruh desa tersapu pada saat itu.”

Pasangan ini berhasil kembali ke rumah dalam keadaan utuh dan menjalani beberapa rangkaian uji kesehatan untuk mengindikasi gangguan perut dan lain sebagainya. Hanya beberapa luka ringan dialami oleh pasangan itu. Kat mengalami retak di tempurung lututnya setelah dia menabrak jalur kereta api dan digigit anjing di pedalaman Australia.

sepeda-tandem-keluarga-turner

Di China

Di beberapa tempat, pemerintah lokal tidak terlalu membantu. Salah satunya peristiwa pengusiran pasangan yang baru menikah itu dari sebuah hotel di China oleh kepolisian setempat. “Saat itu kami menginap di sebuah hotel.  Tiba-tiba beberapa polisi mengetuk pintu dan meminta surat-surat kami,” ujar Kat. “Mereka meminta kami pindah hotel dengan alasan hotel itu tidak cocok untuk orang asing.”

Tiga bulan perjalanan di beberapa negara besar adalah waktu yang paling sulit bagi pasangan itu. Steve mengatakan bahwa mereka seringkali ditatap dengan pandangan aneh atau diam-diam difoto oleh warga setempat. Steve mengatakan, “Cina itu seperti di film fiksi ilmiah, dengan kota-kota yang sangat modern yang hampir meledak karena banyaknya orang-orang pendatang, sementara di sana juga ada desa-desa yang sangat bersuasana pedesaan, yang mana orang-orangnya melakukan hal-hal yang sama seperti 200 tahun yang lalu.”

Salah satu teman mereka yang mereka temui mengenalkan Steve dan Kat ke kakek-neneknya, yang belum pernah bertemu pelancong dari luar negeri. Di luar ekspresi syok melihat dua orang barat yang bepergian dengan trailer di belakang sepeda tandemnya, rambut dan jenggot panjang milik Steve telah membuat kesan familiar orang-orang Asia Tenggara.

Di-Kazhakstan

Di Kazhakstan

Steve sengaja tidak memotong rambutnya untuk alasan agar dapat meningkatkan pendapatan uang amal. Ya, mereka berdua juga membawa misi amal untuk membantu masyarakat miskin.

Selama perjalanan itu, mereka berdua sempat putus asa dengan apa yang mereka lakukan. Mereka hampir menganggap bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah bulan madu. Namun, meski mengalami perbedaan budaya dan bahasa, mereka tetap saja menemukan teman baru, bahkan di tempat paling terpencil.

“Orang-orang benar-benar menyambut kami, selalu ada yang menawarkan kepada kami makanan atau minuman, beberapa diantaranya juga telah berbaik hati memberikan tempat istirahat untuk kami di rumah mereka,” ujar Steve. Meski telah mengalami berbagai peristiwa alam, mereka berdua tidak pernah khawatir atau takut pada orang-orang yang mereka temui. “Karena kami tidak pernah punya masalah.”

Triknya, setiap kali singgah di suatu tempat mereka belajar beberapa kosakata yang dapat membantu keduanya. Tiga atau empat kata untuk masing-masing bahasa. Biasanya yang bernada menyapa seperti “halo” ucapan “terima kasih,” dan “bir” (hadeeeh, Om, Tante… pantes aja perutnya tetep buncit).

steve-di-atas-sepedanya-di-new-zealand

Perjalanan Bulan Madu

Lantas bagaimana menghabiskan waktu 699 hari berturut-turut dan terus bersama-sama? Apa tidak membosankan? Tentunya mereka memiliki dasar hubungan yang sangat baik sehingga mereka bisa terus bersama selama itu. Mengenai hal itu, Kat mengatakan bahwa mereka telah bersama-sama 24 jam setiap hari selama dua tahun dan tidak pernah terpisah lebih dari satu jam.

“Beberapa orang memang bertanya, apa pernah kami berselisih saat dalam berada dalam perjalanan? Dan aku menjawab, Steve adalah satu-satunya teman saya dalam perjalanan, lalu mengapa saya harus berdebat atau berselisih pendapat dengan dia?”

Pasangan ini sekarang hidup bersama keluarga Kat di Penge dan telah memutuskan langkah selanjutnya yang akan mereka jalani dalam kehidupan rumah tangga. Ya, keputusan itu sudah termasuk beberapa petualangan dan perjalanan lain yang akan mereka jalani meski harus ditunda untuk waktu yang belum ditentukan.

Steve-dan-Kat-Turner

Pasangan Bahagia

 

Perjalanan Bulan Madu Kat dan Steve Turner dalam Angka

Hari Perjalanan                                 : 674

Jumlah Negara                                  : 20

Jarak Gowes                                      : 30.500 km

Jarak Tandem Rekor Dunia          : 38.143 km

Pencapaian Ketinggian                  : 249.365 m

Waktu di Atas Sadel                        : 1.585 jam

Petualangan tandem membawa mereka melalui 20 negara selama dua tahun dan hampir memecahkan rekor dunia.